Kupang, timurtoday.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memberi pelatihan tentang penjamahan makanan bagi ratusan relawan dari tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bernaung dibawah yayasan Cahaya Timor Kasih yakni SPPG Tesbatan, SPPG Takari dan SPPG Matani.
Pelatihan berlangsung selama delapan jam di gereja Getsemani Babau, Kupang timur, Sabtu (17/1) dari pukul 08.00 WITA.

Pelatihan dibuka Kepala dinas kesehatan kabupaten Kupang, dr. Desemiyeti Ngatriany.
Saat pembukaan kegiatan, Kadis Desemiyeti menyampaikan pentingnya relawan SPPG atau Dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki Sertifikat Penjamah Makanan karena relawan adalah pihak yang berkontak langsung dengan bahan makanan dari proses persiapan, pengolahan, pemorsian hingga distribusi MBG.
Sertifikat penjamah makanan bagi relawan juga dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak SPPG untuk mendapatkan Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan dalam melaksanakan program layanan MBG.
“Staf khusus kepresidenan saat berkunjung ke SPPG Naibonat kemarin menyampaikan SPPG yang belum punya SLHS tak boleh beroperasi, karena itu semua SPPG wajib punya SLHS dan kegiatan ini merupakan bagian penting dari proses penerbitan SLHS bagi SPPG,”katanya.
Dalam pelatihan penjamah makanan para relawan diberikan materi yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan dapur, peralatan yang digunakan, pengelolaan bahan makan dan kelengkapan relawan saat menjalankan tugas mereka di devisi masing-masing dari persiapan, pengolahan, pemorsian hingga distribusi makanan ke penerima manfaat.

Relawan juga diberikan materi soal kebijakan keamanan bahan makan khusus MBG yang ditetapkan pemerintah.
Selain pelatihan bagi relawan untuk mendapatkan aertfikat penjamah makanan kata dr. Yetty, Dinas kesehatan bersama puskesmas setempat juga melakukan inspeksi lingkungan dapur untuk memastikan kebersihan dan kelaikan SPPG sebelum menerbitkan SLHS bagi SPPG.

Pelatihan penjamahan makanan bagi ratusan relawan dari tiga SPPG tersebut kata dr Yetty merupakan pelatihan yang terkahir dari 19 SPPG yang saat ini beroperasi di kabupaten Kupang. Total relawan yang sudah dilatih mencapai ribuan orang. “Ini pelatihan yang terkahir dari 19 SPPG yang ada saat ini. Jumlah relawan per-SPPG itu 47 orang jadi tinggal dikalikan saja dengan jumlah SPPG yang ada untuk jumlah berapa relawan yang sudah kita latih untuk dapat sertifikat penjamah makanan itu,”katanya.
Dari 19 SPPG yang beroperasi kata dr. Yetty baru ada 4 SPPG yang sudah diterbitkan SLHS-nya. “Ada empat yang sudah terbit SLHS-nya yakni Babau satu dan Babau dua, Tarus dan satu lagi saya tidak ingat,”katanya.
Ia berharap yayasan pengelola SPPG sebagai Mitra BGN lebih dulu mengurus SLHS sebelum SPPG beroperasi. “Ya kedepan kita berharap pihak yayasan urus dahulu SLHS-nya setelah itu baru beroperasi karena itu perintah dari pemerintah pusat,”katanya. (Jmb)
