25.3 C
Kupang
Sabtu, Februari 7, 2026
Space IklanPasang Iklan

Turut Berdukacita mama Reti

Oleh : Jegi Y. A Taneo (*)

Kematian adalah kepastian, namun ketika ia menjemput seorang anak kecil karena rasa putus asa terhadap harapan, itu bukan sekadar takdir melainkan sebuah kegagalan kolektif yang nyata.

Tragedi memilukan di Kabupaten Ngada, di mana, YBR, anak berusia 10 tahun memilih mengakhiri hidupnya hanya karena beban ekonomi, merupakan luka menganga di wajah kemanusiaan kita.

Hanya karena urusan buku tulis dan pulpen hal yang bagi banyak orang mungkin remeh, namun baginya adalah gunung yang tak sanggup didaki dan ia akhirnya menyerah.

Surat perpisahannya yang singkat menjadi saksi bisu bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, masih ada jiwa-jiwa kecil yang merasa benar-benar sendirian di lorong gelap kemiskinan.

Melihat peristiwa di Ngada ini, mengikatkan saya kembali pada setahun lalu ketika para pemuda Getsemani Lemadak, desa Pariti kecamatan Sulamu kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan kepekaan yang luar biasa.

Tanpa menunggu instruksi birokrasi, mereka melakukan gerakan kemanusiaan nyata setelah menemukan dua orang lansia yang hidup tidak manusiawi, tidur di atas tanah dan menahan lapar.

Di dusun Lemadak, empati tidak berhenti pada air mata, jemaat bergerak membangun rumah yang layak dan memulihkan martabat sesama. Ini adalah bukti nyata bahwa maut dan keputusasaan sebenarnya bisa dibendung oleh kasih yang bergerak secara organik.

Semangat ini seharusnya bisa tumbuh di sekolah, gereja, atau kelompok pemuda mana pun di pelosok negeri selama manusia masih memiliki hati nurani untuk memilih “ada” bagi orang lain.

Terkadang kita terjebak dalam penantian sia-sia dengan dalil bahwa negara akan selalu hadir untuk rakyat. Kenyataannya, negara seringkali terlambat bagi mereka yang hanya bisa bicara melalui tatapan mata yang gelisah.

Baca juga  Ironi Negeri Seribu Festival: Saat Joget Mengubur Tangisan Anak-anak NTT

Kondisi psikologis yang tertekan dan himpitan beban hidup seringkali tidak terucap melalui mulut, melainkan terpancar lewat kesunyian.

Kacamata birokrasi negara seringkali rabun terhadap bahasa tubuh dan kesunyian tersebut, karena data administratif tidak pernah bisa memotret penderitaan batin secara akurat. Oleh karena itu, empati personal dan kolektif adalah satu-satunya jaring pengaman yang tersisa kita harus menjadi mata bagi mereka yang tidak bisa lagi bersuara. Saya kira tragedi ini harus memaksa setiap lembaga untuk berbenah.

Lembaga pendidikan dan para guru harus menjadi orang pertama yang mampu menangkap sinyal kesedihan di mata siswa, memastikan tidak ada lagi pulpen yang menjadi penghalang mimpi seorang anak.

Lembaga agama pun tidak boleh hanya sibuk dengan urusan altar, melainkan harus turun ke “lumpur” kehidupan jemaat untuk memastikan tidak ada domba yang hilang bukan karena kehilangan arah melainkan tertanam lumpur kemiskinan dan penderitaan.

Pada akhirnya, kita hanya dapat mengucapkan turut berdukacita mama Reti, sembari merefleksikan bahwa kematian ini adalah peringatan keras bahwa saat kita kehilangan empati, kita kehilangan kehidupan.

Mari kita basuh luka ini dengan semangat kepedulian yang nyata, karena kitalah “negara” yang sesungguhnya saat kita memilih untuk tidak membiarkan sesama menderita dalam kesunyian. Sekali lagi turut berdukacita mama Reti. (* Pemuda  Pariti)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini