Kupang, timurtoday.id – Sejumlah petani pemilik lahan sawah di area persawahan Tunggadea desa Manusak dan Raknamo kecamatan Kupang timur, kabupaten Kupang mengeluhkan kekeringan yang dialami lahan mereka.
Dalam dua pekan terakhir pasokan air dari waduk Raknamo melalui saluran dari pintu air BR11 dan BR12 ke area persawahan tersebut tidak lancar akibatnya tanaman padi yang sudah sebulan hingga satu setengah bulan terancam tak bisa dipanen.
Persoalan tersebut mendapat respon pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II selaku instansi tekhnis pengelola waduk atau bendungan Raknamo yang mengairi lebih dari 600 hektare lahan sawah di wilayah Raknamo, Manusak dan sekitarnya.
Bernadeta Tea, Kepala bidang (kabid) Operasi dan Pemilihraan (OP) BBWS Nusa Tenggara II kepada
timurtoday.id, Jumat (3/4) menginformasikan pihak BBWS melalui UPB Raknamo telah turun ke lokasi dan melakukan pemeriksaan terhadap saluran dan pintu air bersama Petugas Pembagi (PPA) Air dan Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) untuk mengindentifikasi sebab persoalan tersebut.
Ia menyampaikan air dari bendungan Raknamo telah dirilis sesuai kebutuhan lahan di area masing-masing. Namun persoalan pendistribusian air itu terjadi ditingkat P3A yang mendistribusikan air dari pintu air BR melalui saluran tersier ke area persawahan.
Pihaknya mengidentifikasi ada oknum yang nakal atau tidak mentaati kesepakatan pendistribusian air yang sudah disepakati bersama. “Pagi kk…tlg cek yg dr UPB ya, klo air dr Bendungan Raknamo di rilis sesuai lahan yg di kelolah. Masalahnya di tingkat P3A, PPA dan kelompok yg sering tdk taat air sdh di bagi di saat petugas pergi air yg menuju lahan di bagian hilir di tutup kembali,”urai Bernadeta lewat layanan WhatsApp.
Ia menyampaikan persoalan tersebut sudah sering terjadi dan sudah dilakukan pertemuan berulang kali pula antara PPA dan P3A namun persoalan serupa tak kunjung selesai.
“Yg terjadi sptri itu..solusinya pertemuan para petani dan petugas nya sdh disepakati setiap tahun sprti itu tapi setiap tahun terjadi hal yg ssma,”ungkap Bernadeta yang meminta
timurtoday.id menghubungi pihak UPB soal kejelasan hasil turun lapangan Jumat (3/4) kemarin.
Manajer Irigasi wilayah DI Raknamo, Wempi Lubalu yang dihubungi, Sabtu (4/4) siang menolak berkomentar. Alasannya masih sibuk dan ia meminta
timurtoday.id untuk mengkonfirmasi langsung P3A. “Terkait p3A om tanya LANGSNg di p3A saja e om..,”demikian Wempi Lubalu dalam whatsappnya.
Sebelumnya diberitakan Sekitar 74 hektare padi di area persawahan Tunggadea desa Manusak kecamatan Kupang timur kabupaten Kupang kini mengalami kekeringan hebat.
Aliran air yang disuplai dari waduk Raknamo melalui pintu air BR 11 dan BR 12 tak terdistribusi ke area persawahan tersebut dalam dua Minggu terakhir.
Akibatnya tanaman padi berusia satu hingga satu setengah bulan di area tersebut kini merana dan terancam tak bisa dipanen.
Pantauan
timurtoday.id, Kamis (2/4) siang sekitar pukul 12.00 WITA di sejumlah titik di area persawahan BR 12, lahan padi yang tampak kering total sementara di titik lainnya berair meski itu hanya titik genangan di bagian-bagian tertentu.
Di pintu air B12, genangan air yang ada tak mencapai permukaan saluran tersier. Tak ada air yang mengalir di saluran tersebut. Kondisi yang sama juga terlihat di pintu air BR 11, air menggenangi penampung namun tidak mencapai permukaan saluran air ke persawahan.
Mourit Reke, ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) didampingi Tenny Kiuk dan sejumlah petani di area persawahan tersebut menyampaikan kondisi itu sudah terjadi dalam dua pekan terakhir. Dan mereka mengkuatirkan kondisi tersebut kian parah dan lahan padi tak bisa di panen.
Disampaikan Mourits perselisihan antar petani pemakai air kerap terjadi karena persoalan distribusi air yang tidak merata dari waduk Raknamo itu.
Menurut mereka, tak ada masalah soal ketersediaan air di waduk Raknamo karena pengamatan mereka air di waduk itu penuh dan mampu mengairi seluruh area persawahan melalui 15 BR yang ada.
Namun persoalannya ada pada sistim pembagian air di tingkat pintu air dari saluran primer ke saluran tersier.
Air dari waduk didistribusi ke area persawahan melalui saluran primer yang pintu airnya diurus PPA (Petugas Pembagian Air) kemudian diteruskan ke area persawahan lewat saluran tersier/BR yang pintu airnya dikelola P3A.
Sesuai pengamatan mereka persoalan muncul di pembagian air ditingkat BR.
Distribusi air dari BR4 dan BR6 ke area persawahan BR 11 dan BR 12 sering macet meski air dari saluran primer ke BR4 dan BR6 normal. Ini karena pintu saluran air di BR4 menuju BR11 dan BR12 sering ditutup dengan cara diganjal menggunakan kayu atau batang pisang sehingga aliran air ke area persawahan Tunggadea, BR11 dan BR12 menjadi terhalang. “Kalau diatas, di BR4 dan BR6 ditutup maka kita yang dibawah BR11 dan BR12 tidak dapat air, air hanya mengalir ke BR4 dan BR6, ya akibatnya ke sekarang ini, sawah disini (BR11 dan BR12) kering karena kurang air,”kata Mourit.
Mourit mengatakan persoalan seperti itu sering terjadi dan pihaknya sudah menyampaikan ke petugas dari Balai Sungai yang mengelola distribusi air waduk Raknamo. Namun setelah kesepakatan pemerataan distribusi disepakati, beberapa hari kemudian terjadi lagi hal yang sama. “Awal 2026 ini, sekitar Januari atau Februari itu ada pertemuan lengkap dengan balai sungai, disitu sudah disepakati soal pemerataan distribusi air lewat pintu-pintu yang ada dengan hitungannya satu liter perdetik perhektare tapi setelah itu terjadi lagi penyumbatan-penyumbatan oleh oknum di BR4 yang menyebabkan kita disini kesulitan air,”katanya.
Mereka berharap ada perhatian serius dari pihak Balai Wilayah Sungai, pemerintah kecamatan Kupang timur, pemerintah desa Raknamo dan Manusak maupun aparat keamanan atas kondisi tersebut.
Ini karena menurut mereka jika dibiarkan maka konflik sosial antar petani bisa terjadi karena pembagian air yang tidak merata karena ulah dan kepentingan oknum tertentu. (Jmb)