29.3 C
Kupang
Minggu, April 12, 2026
Space IklanPasang Iklan

Harga Sapi di Amarasi Timur Tak Lebih Dari 35.000/Kg, Pengusaha Tekan Harga Pasar?

Kupang, timurtoday.id – Sejumlah peternak Sapi di kecamatan Amarasi timur kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan harga Sapi di wilayah itu yang sejak mengalami penurunan pada tahun 2023 dari Rp 40-an ribu/kilogram ke Rp 30-an ribu/kilogram hingga kini harga sapi di wilayah itu tak pernah lebih dari Rp 35.000/Kilogram.

Besaran harga tersebut dirasa merugikan peternak dan menguntungkan pengusaha untuk itu diharapkan ada kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga pasar ternak yang tak hanya menguntungkan satu pihak. “Tahun 2023 itu harga turun dari Rp 40-an ribu/kilogram ke sekitar Rp 32 ribu/kilogram, kemudian naik sedikit ke Rp 35 ribu/kg. Harga tak pernah lebih dari itu sampai sekarang. Perlu ada kebijakan soal harga dari pemerintah biar kita juga untung,”kata Faisal, salah satu peternak didampingi dua peternak lainnya di Siuf, kecamatan Amarasi timur baru-baru ini.

Ia mengatakan di wilayah Amarasi timur ada banyak Sapi yang memenuhi berat standar penjualan sesuai aturan gubernur yakni berat 275 kilogram namun lama terjual karena ketidakcocokan harga jual beli antara peternak dan pedagang sapi yang datang langsung ke wilayah itu. “Ada yang merasa harga terlalu rendah maka tak mau dijual saat ditawari pembeli, adapun yang terjual tapi itu karena memang pemilik lagi butuh uang,”katanya.

Ia menambahkan ada juga peternak yang karena tidak setuju dengan harga pembeli di lapangan, memilih untuk mememinta quota pengiriman sapi ke luar pulau namun tak bisa mendapatkan quota karena dinas peternakan mengatakan quota sudah habis terbagi. “Karena tidak cocok harga dengan pembeli, ada yang ke dinas minta quota namun selalu saja dibilang quota habis, jadi kami yang seperti kami ini sepertinya tak bisa dapat quota,”kata warga disamping Faisal.

Baca juga  Ijin Tambang Mangan PT.BAIT Cakup Wilayah Tiga Desa di Fatuleu 

Mereka berharap ada perhatian dari pemerintah dalam mengatur harga jual sapi yang tidak merugikan peternak karena yang dirasakan harga jual beli Sapi di tingkat bawah seakan diatur oleh pembeli. “Pembeli ini mereka sepertinya kompak jadi yang datang tawar juga harganya hampir sama semua. Kita tahan untuk tidak jual juga tidak bisa karena kita butuh uang untuk kebutuhan rumah tangga,”katanya.

Salah satu oknum pedagang Sapi yang dihubungi timurtoday.id mengatakan ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan mereka dalam menetapkan harga beli di lapangan.

Jarak tempuh ke tempat Sapi, biaya kepengurusan ijin pengiriman sapi, biaya pemeliharaan sapi sebelum di kirim keluar daerah dan sejumlah pembiayaan lain yang tak mau disebutkan karena dirasa tidak etis untuk dipublikasi, menjadi hitung-hitungan mereka dalam menetapkan harga beli sapi di tingkat peternak. “Pokoknya hitungan saya untuk pengeluaran yang aneh-anek itu bisa sampai Rp 600 ribu perekor. Ini diluar pengeluaran resmi seperti proses perijinan, pengangkutan, biaya pemeliharaan sapi di penampungan dan lainnya,”kata pengusaha pengirima sapi di kabupaten Kupang ini.

Ia mengatakan beberapa bulan diawal tahun 2026 ini harga beli sapi tertinggi untuk wilayah Amarasi bisa mencapai Rp 40-an/kilogram.

Ia tak sependapat kalau dikatakan harga beli sapi di lapangan sengaja ditekan pedagang untuk mendapat keuangan besar. “Kita dagang perlu untuk tanpa rugikan peternak hanya saja pengeluaran sana-sini yang resmi dan tidak resmi ini juga perlu kami hitung biar usaha kami bisa jalan terus,”kata oknum pengusaha asal Amarasi ini.(Jmb)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini