Kupang, timurtoday.id – Area persawahan Tunggadea desa Manusak dan Raknamo kecamatan Kupang timur, kabupaten Kupang yang sebelumnya kering karena sekitar dua pekan tak ada pasokan air dari waduk Raknamo melalui pintu air BR11 dan BR12, kini sudah terairi setelah pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui UPB DI Raknamo turun memeriksa saluran dan sejumlah pintu air ke area persawahan berluasan lebih dari 600 hektare itu, Jumat (3/4).
“Areal yg sempat terpublikasi kering skrg sdh terlayani (air) kk,”tulis Bernadeta Tea, Kepala bidang (kabid) Operasi dan Pemilihraan (OP) BBWS Nusa Tenggara II dalam WhatsApp-nya yang diterima timurtoday.id, Sabtu (3/4) sore pukul 15.21 WITA.
Bernadeta juga menyertakan foto dan vidio pendek yang menunjukan air yang mengalir menggenangi area tersebut.
Suara dalam vidio tersebut menyebut air sudah mulai masuk ke areal itu pada sehari sebelumnya atau Jumat (3/4).
Tenny Kiuk petani setempat juga menginformasikan hal yang sama, Sabtu (4/4) sore.
Ia berharap agar pasokan air bisa terus lancar sehingga mereka bisa memanen tanaman padi mereka di lahan seluas 74 hektare di BR11 dan BR12.
Bernadeta mengharapkan aliran air dari bendungan Raknamo dapat mengalir lancar ke semua area persawahan yang airnya disuplai dari waduk tersebut.
Penutupan pintu air disejumlah BR oleh pihak tertentu yang menyebabkan distribusi air ke sejumlah area tersendat diharapkan tak terjadi lagi sehingga air dari waduk itu benar-benar termanfaatkan secara baik oleh semua petani yang memiliki lahan sawah di wilayah itu.
Sebelumnya Mourit Reke, ketua P3A didampingi Tenny Kiuk dan sejumlah petani di areal tersebut menyampaikan karena penutupan pintu air yang memutus aliran air ke BR11 dan BR12 itu sudah sering terjadi dan berpotensi menimbulkan konflik sosial antar petani pemakai air maka diharapkan ada atensi dari pihak pemerintah kecamatan hingga desa Raknamo dan Manusak dan kepolisian setempat untuk ikut mengawasi distribusi air dari bendungan Raknamo melalui saluran primer dan tersier yang ada.
“Sudah sering begini, kalau pintu air dibuka, nanti ada yang datang dan sumbat pakai kayu atau batang pisang sehingga air tidak mengalir ke areal kami. Kita lapor ke petugas, nanti air jalan lagi tapi nanti ditutup lagi, sudah sering seperti itu sehingga kami minta pemerintah kedua desa, camat dan polisi disini untuk ikut awasi biar kalau kedapatan siapa yang berulah bisa ditindak karena merugikan petani lain,”kata Mourit Reke. (Jmb)
