Kupang, timurtoday.id – Musim hujan menjadi momok bagi warga sejumlah kecamatan di wilayah Amfoang kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini karena Banjir dari sejumlah sungai besar di wilayah itu akan cukup menggangu akses transportasi warga dari Amfoang ke Kupang.
Warga dari Kupang ke Amfoang atau sebaliknya harus bertaruh nyawa menyeberangi sejumlah jembatan yang rusak total akibat dihantam banjir sekitar tahun 2023 lalu. Dimusim kemarau, tak ada banjir, warga bisa melewati jalur alternatif melewati alur kali namun tak demikian disaat hujan dimana alur sungai dipenuhi air.
Kamis (22/1) beredar vidio di sejumlah grub WhatsApp yang menyajikan bagaimana warga bertaruh nyawa melintasi puing-puing jembatan Termanu di batas antara kecamatan Fatuleu Barat dan Amfoang Barat daya. Jembatan itu adalah salah satu dari sekian jembatan yang patah diterjang banjir beberapa tahun lalu. Jembatan itu berada di ruas jalur utama Kupang – Amfoang.
Dalam vidio pendek itu warga dengan beban dipundak menyebrangi sungai itu dengan menapaki puing-puing badan jembatan yang muncul di permukaan air.
Bernat Taneo, salah seorang pemuda asal Amfoang menginformasikan karena kendaraan dari Amfoang ke Kupang dan sebaliknya tidak dapat melintasi jembatan tersebut maka warga terpaksa melakukan aksi itu untuk sampai di jalan ujung jembatan.
Disampaikan Bernat sedikitnya ada empat jembatan yang harus diseberangi warga dengan cara itu baru bisa tiba di wilayah Amfoang Barat daya maupun Fatuleu Barat.
Ia mengatakan pihak pemerintah desa setempat belum bisa mengambil upaya darurat membuat jalur alternatif dari alur sungai karena kondisi air sungai yang belum memungkinkan.
Ia mengatakan warga berharap Pemkab Kupang atau pemerintah provinsi NTT dapat merespon persoalan itu secepatnya agar akses transportasi warga bisa berjalan lancar. “Ada satu alat berat yang ada dekat situ, mungkin itu bisa dipakai untuk membuat jalur alternatif agar transportasi warga bisa berjalan lagi,”kata Bernat Taneo.
Yonathan Natun, saat serahterima jabatan camat Amfoang Barat daya beberapa pekan lalu juga menyampaikan pesan kepada pemerintah provinsi NTT terkait persoalan terputusnya jembatan-jembatan di wilayah Amfoang itu.
Yonathan Natun mengatakan hingga akhir masa jabatannya sebagai camat Amfoang Barat daya, persoalan terputusnya jembatan-jembatan tersebut belum teratasi secara baik oleh pemerintah provinsi NTT. (Jmb)