27.3 C
Kupang
Senin, Maret 9, 2026
Space IklanPasang Iklan

Raja Amfoang Warning ‘Jakarta’, Siap Aksi Masuk Naktuka

Kupang, timurtoday.id – Raja Amfoang, Robby Manoh kembali bersuara tentang penyelesaian batas negara Republik Indonesia (RI) dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) di Naktuka (segmen Noelbesi – Citrana) di Amfoang timur kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia memberi warning (peringatan) tegas kepada Pemerintah pusat di Jakarta agar segera menuntaskan penyelesaian batas negara di Naktuka. Jika masih terus dibiarkan berlarut-larut ia akan memimpin warga Amfoang untuk masuk ke Naktuka karena warga Amfoang juga berhak atas Nakuka.

Ia mengatakan Pemerintah RI perlu menyatakan sikap tegas dalam penyelesaian masalah batas itu karena itu menyangkut kedaulatan negara dan hak warga Indonesia di Amfoang atas lahan Naktuka. “Ini bukan semata soal hak warga Amfoang atas lahan di Naktuka tapi ini juga soal kedaulatan negara. Kita selalu bilang tanah sejengkal pun tak boleh dikuasai musuh tapi ini di Naktuka lahan sawah seribu lebih hektare sudah dikuasai negara lain, tapi kita diam sudah puluhan tahun. Saya ingatkan pemerintah pusat, kami akan masuk Naktuka, saya sendiri yang akan pimpin karena warga Amfoang berhak disitu (Naktuka),”kata Afo Sila, sapaan adat Robby Manoh Rabu (4/3) malam.

Batas Sudah Jelas

Pada 14 Februari 2017 lalu sebagai raja Amfoang ia telah diwakilkan oleh pemerintah RI untuk duduk bersama raja Ambenu, Beun Sila – Antonia Hermenegildo Da Costa saudaranya yang mewakil pemerintah RDTL untuk menetapkan batas kedua negara secara adat disaksikan Liurai Sila – Dominikus Kloit Thei Seran dan Sonbai Sila – Amade’o Sonbai dan kementerian luar negeri kedua negara.

Namun setelah kesepakatan batas di Bokos, Amfoang timur itu dibuat yang ditegaskan dengan sumpah adat justeru tidak ditindaklanjuti dengan pemasangan pilar batas oleh pemerintah kedua negara sesuai kesepakatan adat itu.

Baca juga  BPD Ekateta Temukan SDN Tuapukan Kosong Tanpa Guru, Siswa Pulang

Pemerintah kedua negara malah melakukan perundingan lagi di Bogor – Jawa barat dan Deadlock, tak berujung hingga kini. “Saya anggap batas kedua negara sudah jelas. Sesuai batas yang kami sepakati dengan sumpah adat yaitu batas alam, kali Noelbesi, tak ada batas lain lagi. Saya menolak kalau ada batas lain lagi,”katanya.

Dijelaskan dalam kesepakatan adat dirinya dan Beun Sila, Raja Ambenu batas kedua negara adalah kali Noelbesi maka Naktuka masuk dalam wilayah NKRI namun pengelolaan lahan pertanian di Naktuka dikelola bersama karena secara historis Ambenu dan Amfoang adalah bersaudara. Jika kemudian ada batas lain yang disepakati pemerintah kedua negara diluar yang disepakati maka itu akan menimbulkan persoalan lain dimasyarakat.

Ia mengatakan tak akan melakukan pertemuan adat lagi untuk membahas batas kedua negara. “Batas Sudah selesai, kalau mau difasilitasi untuk bicara adat lagi soal batas itu tak mungkin saya mau karena kami sudah bersumpah, ikuti saja batas yang sudah ada,”katanya.

Warga Amfoang menurutnya telah dirugikan dalam situasi ini. Karena kawasan Naktuka yang seharusnya steril dari aktifitas apapun sebelum ada penyelesaian batas, justeru telah dikuasai oleh RDTL dengan adanya 243 KK warga Oecuse yang masuk dan melakukan aktifitas pertanian di Naktuka. Sementara warga Amfoang tidak diijinkan masuk ke Naktuka. Pemerintah RDTL juga telah membangun jalan hotmix sekira 2,6 kilometer di Naktuka.(Jmb)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini