25.6 C
Kupang
Minggu, Mei 17, 2026
Space IklanPasang Iklan

Hasil Perdana Lahan CSR di Manusak, 1 Hektare 7 Ton Gabah, Petani Puas

Kupang, timurtoday.id – Pemerintah provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2025 lalu mengadakan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di sejumlah titik di kabupaten Kupang.

Salah satu titiknya di desa Manusak kecamatan Kupang timur. Lahan tidur seluas 44 hektare (ha) diubah jadi sawah baru yang kini disebut petani sempat lahan sawah Belakang PLN.

Minggu (17/5) siang, timurtoday.id mengunjungi area persawahan yang berada di belakang kediaman mantan bupati Kupang, Korinus Masneno tersebut.

Ada lahan yang baru selesai dipanen, ada yang sudah menguning siap panen dan ada yang masih hijau dengan bulir padi yang tegak berdiri. Hanya sebagian kecil yang tampak tidak ditanami padi.

“Luas keseluruhan sawah CSR ini ada 44 hektare, ada 31 hektare yang ditanami dan siap panen,”kata Dance Senge didampingi Ruben Siubelan dan salah seorang petani yang ditemui di area persawahan tersebut.

Dari luasan yang ada baru tiga hektare lahan milik Dance Senge yang sudah dipanen. “Hasilnya satu hektare saya dapat tujuh ton, cukup memuaskan,”ungkap Dance.

Meski sudah memasuki masa panen namun area lahan tersebut masih dipenuhi air yang tersalur lewat saluran irigasi dari pintu air BR 11, waduk Raknamo.

 

Setalah di panen kata Dance, petani di area tersebut sudah berencana untuk kembali menanam di Musim Tanam (MT) II karena kondisi ketersediaan air yang dirasa mencukupi.

“Kalau ada yang bilang lahannya disini kering, tidak dapat air itu omong kosong, bisa lihat sendiri kondisi air di lahan ini seperti apa, kami panen dalam air,”kata Dance, ketua kelompok tani (Poktan) Teratai Manusak.

Dance Senge di lahan sawah CSR belakang PLN Manusak

Air dari pintu air tampak mengalir melalui saluran permanen dan terbagi melalui sejumlah saluran galian manual memenuhi area persawahan dekat pintu air hingga area paling ujung hamparan sawah di tepi kali mati.

Baca juga  Yosep - Aurum Mumulai Penataan Struktur Birokrasi, Besok 23 Pejabat Eselon II Dilantik

Kondisi tanaman padi di lahan dekat Kali mati yang tampak tak sesempurna lahan lain yang berbatasan, menurut Dance itu karena perawatan setelah tanam oleh pengelola yang kurang baik bukan karena kurang air.

Dia mengatakan untuk menunjang pengelolaan lahan CSR tersebut Poktan Teratai juga mendapat pinjaman Alsintan berupa dua mesin pompa air dari dinas pertanian provinsi NTT.

Satu mesin dipegang oleh Ruben Siubelan dan satu mesin lainnya diurus olehnya. Dua mesin itu digunakan untuk mengairi sawah milik petani di area tersebut.

Namun belakangan mesin – mesin tersebut diambil kembali dari area persawahan karena area persawahan sudah siap panen dan ketersediaan air dilahan dirasa tak lagi membutuhkan mesin pemompa air.

Untuk mesin yang diurus oleh Ruben Siubelan kata Dance, diambil kembali dari lokasi persawahan karena ada sejumlah komponen mesin berupa selang penyedot dan pembuangan beserta engkol hilang saat tersimpan di lokasi persawahan.

“Dua mesin itu saya ambil dari lokasi dan simpan di rumah saya karena alasan-alasan itu, bukan saya sembunyikan. Sebagai ketua kelompok yang menandatangani berita acara pinjam pakai dengan dinas pertanian provinsi, saya punya tanggungjawab atas mesin-mesin itu. Yang di bapak Ruben itu selang, engkol dan terpal 6×9 meter hilang dari lokasi jadi saya ambil dan simpan di rumah karena takut mesinnya hilang, bukan untuk disembunyikan,”katanya.

Disampaikan semua petani di lahan tersebut bisa meminta untuk menggunakan mesin-mesin itu jika dibutuhkan.

“Semua bisa pakai tapi sejak Februari kita dapat pinjam, tak ada petani yang minta pakai karena mungkin air yang ada di lahan cukup untuk mengairi padi yang ada,”katanya. (Jmb)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini