Kupang, timurtoday.id – Dua pekan lalu, anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) David Boimau melakukan kunjungan kerja ke sejumlah desa di wilayah Amfoang timur kabupaten Kupang dan Eban kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratic Timor Leste (RDTL).
Dari pengamatan dan dialog langsung dengan warga disana wakil partai Hanura itu mendapatkan banyak fakta soal kondisi masyarakat Indonesia di sekitar batas negara RI-RDTL yang memprihatinkan. “Banyak persoalan, kompleks, yang harus menjadi perhatian Pemerintah kabupaten, Provinsi dan pemerintah pusat,”ungkap David Boinau kepada timurtoday.id, Jumat (6/3).
Ia mengatakan persoalan infrastruktur untuk akses ke Ibukota kabupaten Kupang adalah persoalan yang menuntut atensi segera dari pemerintah.
Sulitnya akses transportasi darat ke wilayah itu telah berdampak pada tingginya harga barang kebutuhan pokok “Harga sembako dan bahan bangunan yang cukup tinggi,”katanya.
Akses jaringan komunikasi di desa – desa yang dekat dengan batas negara terasa sulit. “Dititik tertentu kita dapat jaringan (telekomunikasi) milik RDTL, ada banyak blankspot disana,”ungkapnya.
Kondisi itu menyebabkan masyarakat kesulitan berkomunikasi atau mendapat informasi lewat jaringan seluler.
Untuk menjangkau Oepoli – Amfoang timur, kecamatan di kabupaten Kupang yang berbatasan dengan RDTL akses jalan satu-satunya yang kondisinya baik adalah ruas SoE- Kapan (Timor Tengah Selatan) – Eban (Timor Tengah Utara). “Saat ini akses satu-satunya jalan ke Oepoli yang cepat hanya melewati Eban-Kapan- Soë tetapi kondisi jalan Kapan- Eban- Mutis rusak parah sehingga harus diperbaiki,”katanya.
Dalam dialognya dengan sejumlah warga ungkap David, warga juga menyampaikan tentang persoalan batas negara RI-RDTL yang belum jelas. “Ya kita berharap adanya komunikasi dan koordinasi berjenjang antara pemerintah kabupaten, propinsi dan pusat untuk memberikan perhatian serius kepada masyarakat di sekitar wilayah perbatasan antar negara itu,”katanya. (Jmb)
