Kupang, timurtoday.id – Keluhan pihak Sekolah Dasar Negeri (SDN) Loemanu di kecamatan Amfoang timur kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tentang ruang darurat yang dipakai sebagai tempat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) direspon kementerian pendidikan.
Pihak sekolah diundang ke Jakarta dan bertemu dengan pihak kementerian pendidikan untuk memastikan bantuan anggaran revitalisasi gedung bagi sekolah tersebut.
“Saat bimtek di Jakarta sekitar dua pekan lalu, kami bertemu kementerian dan kami dapat dana revit (revitalisasi) Rp 940 juta untuk ruang kelas dan bangunan WC sekolah ,”ungkap kepala UPTD SDN Loemanu, Arnichus Loit kepada timurtoday.id, Jumat (8/5) siang melalui sambungan telepon.
Loit menceritakan pasca berita media soal kondisi KBM siswa-siswi dalam ruangan darurat yang berair lumpur, pejabat dari dinas pendidikan kabupaten Kupang, Dev Laiskodat menghubunginya dan menyampaikan kalau SDN Loemanu masuk dalam daftar sekolah penerima dana revit.
Beberapa hari kemudian tim dari kementerian pendidikan turun ke lokasi memastikan kondisi ruangan sekolah.
Setelah itu pihak sekolah diminta ke Jakarta untuk mengikuti Bimtek dan saat itu mereka bertemu dengan pejabat kementerian untuk memastikan adanya bantuan tersebut kepada SDN Loemanu.
Dalam pertemuan itu mereka diminta membuat usulan kebutuhan ke kementerian pendidikan. “Saat ini kami sementara buat usulan kebutuhannya untuk dikirim ke kementerian,”katanya.
Loit menambahkan dalam kunjungan pihak kementerian ke Kupang tanggal 6 Mei kemarin, SDN Loemanu juga diundang untuk menerima prasasti dari kementerian Pendidikan terkait bantuan tersebut.
Digenangi Air
Sebelumnya pada Senin (2/2) lalu melalui sambungan telepon, kasek Loit menginformasikan bangunan darurat yang menjadi ruang belajar 30 orang siswa kelas 1, 2 dan 3 itu berlumpur karena luapan air yang menggenangi tempat itu setiap kali ada hujan. “Setiap ada hujan air pasti masuk dan kegiatan belajar mengajar harus berhenti,”katanya.
Kondisi itu kata Kasek Arnichus Loit sudah berlangsung sejak Desember 2025 kemarin saat hujan.
Kondisi itu diakui sangat menggangu aktifitas belajar mengajar namun pihaknya hanya bisa pasrah.
Dalam laporan harian tentang kegiatan belajar mengajar sudah disampaikan namun belum ada respon dari pihak dinas pendidikan kabupaten Kupang.
“Kondisi ini jelas mengganggu, kami pasrah dan jalani saja, dalam laporan harian kami sudah sampaikan soal kondisi ini tapi begini sudah sampai saat ini masih begini,”keluhnya.
Dijelaskan bangunan darurat tersebut baru dibangun tahun 2025 lalu secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Bangunan darurat itu dibangun karena tiga ruang permanen yang ada dirasa tidak memadai lagi untuk melangsungkan aktifitas belajar mengajar untuk siswa kelas satu hingga kelas enam yang mencapai lebih dari 70 orang.
Disampaikan pihak sekolah sudah berkoordinasi dengan komite sekolah untuk membuat lebih layak lagi bangunan darurat tersebut. Hanya material berupa semen yang dikumpulkan masyarakat belum cukup untuk digunakan membenahi kondisi bangunan yang kini beratap daun, bertiang kayu dan berlantai tanah itu. “Kita sudah kumpul semen untuk buat lantai tapi belum cukup,”katanya.
Arnichus Loit berharap ada perhatian pemerintah atas persoalan yang dihadapi sekolah itu.
“Anak-anak di pelosok negeri juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Kami berharap ada dukungan nyata dari pemerintah untuk memperbaiki fasilitas sekolah demi masa depan generasi bangsa,” ujarnya.
Sejarah Pendirian
SDN Leomanu berada di RT 08, RW 05, Dusun 03, Desa Nunuanah. Sekolah itu didirikan secara darurat pada tahun 2012 dengan atap daun, berdinding bebak, dan berlantai tanah.
Meskipun demikian, semangat belajar para siswa dan dedikasi para guru tetap tinggi demi mencerdaskan anak-anak di wilayah pelosok.
Pada tahun 2015, SDN Leomanu memperoleh bantuan pembangunan gedung perpustakaan dari pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Bantuan ini menjadi langkah awal dalam peningkatan fasilitas pendidikan di sekolah tersebut.
Selanjutnya, pada tahun 2019, SDN Leomanu kembali menerima bantuan pembangunan tiga ruang belajar (rombel) dan satu ruang kantor dari Yayasan CT ARSA Foundation.
Gedung tersebut resmi diresmikan dan mulai digunakan pada tahun 2024 untuk kegiatan belajar mengajar kelas IV, V, dan VI.
Sementara itu, siswa kelas I hingga III sebelumnya melaksanakan kegiatan belajar mengajar di teras gedung permanen tersebut.
Dari kondisi tersebut, dengan dukungan dan inisiatif orang tua murid, dibangunlah gedung darurat untuk kelas I, II, dan III. (Jmb)
