Kupang, timurtoday.id – Sejumlah butuh pekerja proyek Bangunan SD Negeri Tuakau desa Tuakau kecamatan Fatuleu Barat kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengadu ke Sersan Kepala(Serka) Simran Masus, anggota TNI-AD yang bertugas di wilayah itu sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa).
Belasan orang buruh tersebut mengadu soal upah kerja mereka Rp 79,5 juta yang belum dibayar sejak selesai kerja Desember 2025 lalu. Mereka meminta bantuan kepada Serka Simran membantu mereka untuk mendapatkan upah mereka yang belum dibayar pelaksana proyek CV. Panca Surya.
“Tolong dulu kk, mereka mengeluh terkait pekerjaan pembangnan SD Negeri Tuakau, yang mana pembangunan sudah selesai dari Desember tp upah para belum di bayarkan sejumlah kira2 79, 5 juta,”ungkap Serka Simran kepada timurtoday.id, Rabu (15/7) siang.
Serka Simran menjelaskan para buruh sangat mengharapkan upah mereka itu dibayarkan pihak penyedia jasa karena sangat dibutuhkan.
“Kasian masyarakat kerja setengah mati dan berharap untuk dapat uang ternyata sampai saat ini blm ada kepastian,”ungkap Serka Simran.
Dari informasi itu, timurtoday.id mengkonfirmasi pihak dinas Pendidikan kabupaten Kupang selalu pemilik program, melalui Dev Laiskodat, pejabat di dinas pendidikan kabupaten Kupang yang mengurus program tersebut.
Lewat sambungan telepon, Dev Laiskodat menjelaskan persoalan tersebut sudah dibicarakan bersama oleh kepala dinas pendidikan dengan perwakilan warga maupun pelaksana proyek, CV.Panca Surya.
Dev menjelaskan dalam pertemuan tersebut sudah disampaikan ke perwakilan warga warga dana proyek tersebut belum seluruhnya dicairkan ke pihak perusahaan.
Proses pencarian sisa dana proyek ke pihak perusahaan kata Dev Laiskodat baru bisa dilaksanakan setelah penetapan APBD perubahan. “Dana memang belum cair karena masih menunggu perubahan anggaran, mungkin baru bisa dicairkan setelah penetapan anggaran perubahan,”kata Dev Laiskodat yang kemudian memberikan nomor telepon pihak perusahaan untuk dikonfirmasi.
Pihak perusahaan belum merespon upaya konfirmasi media ini lewat layanan WhatsApp.
Proyek tersebut bernilai Rp 400-an juta. (Jmb)
