24.7 C
Kupang
Selasa, Juli 14, 2026
Space IklanPasang Iklan

Progres Bendungan Manikin di Taebenu Melamban di Tahun ke-7

Kupang, timurtoday.id – Pelaksanaan pembangunan fisik bendungan Manikin di desa Bokong – Kuaklalo kecamatan Taebenu kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai berlangsung tahun 2019 lalu.

Memasuki pertengahan tahun ke-7 pembangunan fisik Bendungan yang didanai APBN tersebut mulai melamban dibanding tahun-tahun sebelumnya. Progres pembangunan untuk dua paket pekerjaan bendungan tersebut baru mencapai sekitar 68 persen.

“Untuk kondisi saat ini sekitar 68 persen, pastinya tak beda jauh dari yang disampaikan PPK waktu lalu,”kata Faris, Kepala satuan kerja (satker) bendungan 1 Manikin, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II kepada wartawan Selasa (14/7).

Ia mengungkap sejumlah persoalan yang menyebabkan pekerjaan bendungan tersebut terasa lamban dan tak juga selesai hingga memasuki tahun ke-7 pembangunan.

Persoalan alokasi anggaran yang berkurang sejak adanya efisiensi anggaran dikatakan menjadi penyebab paling siginifikan disamping persoalan lahan dan struktur tanah di lokasi bendungan.

“Sejak efisiensi anggaran tahun lalu alokasinya berkurang tahun ini saja hanya Rp 25 miliar. Sebelumnya itu bisa 300 miliar hingga setengah triliun bahkan satu triliun, tahun lalu WK (Wijaya Karya-pelaksana proyek) pulangkan pegawainya karena tidak ada kerjaan,”ungkap Faris.

Sebelum efisiensi anggaran, kata Faris persoalan komplain lahan oleh warga setempat juga menghambat waktu pekerjaan. Persoalan lahan itu kata Faris sudah hampir terselesaikan.

Selain itu kondisi struktur tanah di lokasi bendungan yang gampang bergerak juga membutuhkan tekhnis khusus dalam pekerjaan yang berpengaruh pada waktu penyelesaian pekerjaan. “Orang sini bilang tanah bobonaro, gampang bergerak dan mengembang, kalau air hilang susut dan pecah-pecah, gampang longsor jadi harus disiasati secara tekhnis, kerjanya pelan-pelan,”katanya.

Pihaknya menargetkan pekerjaan itu selesai pada tahun 2029 jika alokasi anggaran dinaikan.

Baca juga  Dugaan Kekerasan Seks AKBP Fajar Terhadap Anak di Kota Kupang, Aktifis Perempuan Bersuara 

“Kalau lancar pendanaan, target tahun 2029 itu sudah selesai, karena alokasi anggaran ini pengaruhnya signifikan ke realisasi fisik. Harapannya ada penambahan alokasi supaya penyelesaian bisa terpacu,”katanya.

Sebelumnya Adi Nalema, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II, akhir Juni lalu menginformasikan pekerjaan bendungan tersebut terbagi dalam dua paket pekerjaan.

Per 16 Juni 2026 progres pekerjaan fisik paket I sudah mencapai 45,095 persen sementara paket II sudah mencapai 97,3 persen.

Bendungan Manikin merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk memperkuat ketahanan pangan, air, dan energi di kawasan Indonesia timur.

Program tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dengan Anggaran sekitar Rp2,059 triliun.

Menteri Pekerjaan Umun Ir. Dody Hanggodo sebelumnya menyampaikan bahwa pembangunan Bendungan Manikin merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjawab tantangan ketersediaan air di wilayah NTT.

“Bendungan Manikin akan menjadi salah satu infrastruktur dalam mendukung ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur. Dengan penyediaan air irigasi yang andal, kita harapkan produktivitas pertanian meningkat dan indeks pertanaman bisa naik signifikan sehingga kesejahteraan petani meningkat,” katanya.

Bendungan Manikin memiliki kapasitas tampung normal sebesar 20,45 juta meter kubik dan akan mendukung pengembangan Daerah Irigasi (DI) seluas 570,86 hektare mencakup DI Tuahanat seluas 100 hektare, D.I Manikin seluas 437 hektare, dan D.I Manumuti seluas 33,86 hektare.

Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, indeks pertanaman di wilayah tersebut ditargetkan meningkat dari 200% menjadi 300%, sehingga mampu mendorong peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

Selain untuk irigasi, bendungan ini juga akan menyediakan air baku sebesar 700 liter per detik, yang masing-masing dialokasikan 350 liter per detik untuk Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Baca juga  Mahasiswa Demo Polres Kupang, Tuntut Keadilan Hukum di Sejumlah Kasus

Bendungan Manikin juga berfungsi mereduksi potensi banjir hingga seluas 627 hektare, mencakup wilayah Kelurahan Lasiana di Kota Kupang dan Kecamatan Kupang Tengah di Kabupaten Kupang.

Di sisi energi, bendungan ini memiliki potensi pengembangan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung sebesar 29,8 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 0,125 MW.

Dengan berbagai manfaat tersebut, Bendungan Manikin diharapkan tidak hanya menjadi infrastruktur penyedia air, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pertanian, penyediaan air bersih, pengendalian banjir, serta pengembangan energi dan potensi pariwisata lokal. (Jmb)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini