Kupang, timurtoday.id – Camat Taebenu, kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rollanda Pelandou mengungkap dampak buruk yang dirasakan warganya di desa Kuaklalo dari pekerjaan bendungan Manikin di wilayah itu.
Ditemui, Jumat (7/8) di kantor camat Taebenu, camat Rolanda mengatakan warga Kuaklalo yang bermukim ditepi jalan menuju lokasi proyek bendungan menjadi sasaran kepulan debu yang beterbangan saat dilintasi kendaraan menuju dan dari lokasi bendungan. Ruas jalan di dusun tiga menuju lokasi proyek tersebut dikatakan rusak dan berdebu.
Debu yang beterbangan masuk ke dalam rumah warga dan menutup tanaman – tanaman di halaman rumah warga.
Bahkan kata camat Rolanda sudah lebih dari tiga orang pengendara sepeda motor yang melintas di ruas jalan tersebut terjatuh akibat jalan rusak dan kepulan debu.
Dikatakan kekesalan warga atas kondisi yang dialami memuncak pada tanggal 4 Agustus 2026 kemarin. Ada sekelompok warga Kuaklalo yang memblokir ruas jalan di dusun tiga menuju lokasi proyek bendungan.
Ujung dari pemblokiran itu terjadi ketegangan antar warga yang berujung tindak pidana dan saling lapor ke polisi.
“Ada ketegangan antar warga Kuaklalo yang berujung saling lapor ke Polisi,”katannya.
Menurutnya kejadian berdarah tersebut merupakan buntut dari aksi pemblokiran jalan itu. Warga dikatakan telah dirugikan dari aktifitas kendaraan-kendaraan proyek tersebut yang ujungnya terjadi peristiwa pidana. Karena itu ia menuntut tanggungjawab pihak perusahaan pelaksana proyek atas kerugian yang dialami warga Kuaklalo. “Senin saya ke balai sungai minta penjelasan mereka soal proyek ini, kapan selesai karena kalau jalan itu tidak diperbaiki maka warga yang jadi korban,”katanya. (Jmb)