Dia bukan Raden Ajeng Kartini, tokoh pejuang emansipasi perempuan di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu.
Namanya Virgo Mami, perempuan muda berusia 27 tahun asal desa Pika kecamatan Molo tengah kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kini hidup dan berjuang bersama lebih dari seratus orang kaum difabel berusia dua bulan hingga yang lanjut usia (lansia).
‘Kartini’ hanya sebutan yang disematkan Pengurus Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) kepada Virgo Mami karena dedikasinya berjuang dalam keterbatasan merawat dan mengasuh ratusan kaum difabel selama bertahun-tahun.
“Ini perjuangan luar biasa, sekarang banyak yang hanya beretorasi, tapi kakak Virgo nyatakan itu, berjuang dalam kondisi sulit untuk hidup banyak orang, kayaknya Kartini. GAMKI kabupaten Kupang mengapresiasi, menghargai, menghormati perjuangan kakak Virgo, ternyata masih ada perempuan muda usia yang mau berjuang ditengah keterbatasan untuk kehidupan orang banyak, inilah Kartini masa kini,”ungkap Dessy Ballo-Foeh, ketua DPC GAMKI Kabupaten Kupang saat berdialog dengan Virgo bersama beberapa anak asuhnya di Yayasan Ratu Pencinta Damai, di kelurahan Naikoten I Kecamatan Kota raja Kota Kupang, Rabu (22/4) siang.
Ceritera Virgo Mami dalam berjuang membebaskan ratusan anak-anak dan lansia dari cengkeraman keterbelakangan fisik cukup menggores nurani. Nyaris tak ada tawa, hanya susah, sedih karena cibiran orang bahkan duka yang dilalui. Namun disitulah ia merasa tertantang untuk terus berjuang sambil tetap berdoa berserah kepada Tuhan. “Merasa kosong, tak ada apa-apa, karena kondisi, kami dijauhi tapi saya tetap berdoa berserah kepada Tuhan dan kami masih ada sampai saat ini,”ungkap Virgo lirih.
Perjuangan Virgo dimulai saat covid-19 tahun 2020 lalu. Saat itu saudari kandungnya mengalami sakit serius yang memaksa dia dan orang tuanya membawa kakaknya dari SoE kabupaten TTS untuk dirawat di Kota Kupang.
Pergulatan mereka menyembuhkan kakaknya dari sakit berakhir duka. Kakaknya meninggal dalam kondisi sakit karena tak bisa dioperasi.
Apa yang dialami kakaknya seakan menampar bathinnya. “Saya dan mama berpikir, kami salah, kami tak bisa menolong kakak. Dari situlah mulanya. saya termotivasi, saya harus lakukan sesuatu untuk kemanusiaan, menolong orang sakit karena keterbelakangan fisik,”katanya.
Bergabung dengan komunitas-komunitas yang konsen melakukan kegiatan sosial kemanusiaan adalah langkah awal Virgo dalam mewujudkan misi kemanusiaannya. Hingga akhirnya pada tahun 2023 lalu, ia mendirikan yayasan sosial, Ratu Pencinta Damai.

Dari merawat satu dua orang dalam keluarga yang mengalami keterbelakangan fisik, kini yayasan Ratu Pencinta Damai merawat dan mengasuh seratus lebih orang dari kabupaten TTS, kabupaten Kupang bahkan luar pulau Timor.
Mengasuh dan merawat orang dengan kondisi fisik yang tak normal memang tak mudah, butuh kesabaran dan ketegangan jiwa. “Memang tak mudah tapi saya rasa ini panggilan, ini sudah jadi tanggungjawab saya, jadi tak ada masalah yang tak terselesaikan, semua berjalan baik sampai saat ini,”katanya.

Yayasan mewajibkan setiap pasien yang diasuh atau menjalani perawatan didampingi satu anggota keluarga hingga pasien dianggap sembuh dan kembali ke rumah mereka.
Semenjak menjalankan pelayanan kata Virgo ada juga pasien yang tak tertolong dan meninggal dunia dan ada yang mengalami kesembuhan dan kembali ke rumah mereka.
Pelayanan kepada pasien dilakukan dengan pemeriksaan dan perawatan medis di rumah sakit dan juga terapi tergantung kondisi sakit yang dialami. “cara pelayanan kita ada medis, terapi dan ditopang doa memohon pertolongan Tuhan,”katanya.

Virgo menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mengulurkan tangan untuk membantu layanan yayasan dalam berbagai bentuk baik materi maupun semangat.
Pada kesempatan tersebut DPC GAMKI kabupaten Kupang memberikan bantuan dana untuk layanan kemanusiaan yayasan Ratu Pencinta Damai.

Kata Dessy Ballo-Foeh apa yang diserahkan adalah bentuk penghargaan, penghormatan GAMKI kabupaten Kupang atas dedikasi Virgo Mami sebagai perempuan muda yang punya tekad perjuangan kemanusiaan luar biasa ditengah terkikisnya nilai kemanusiaan itu sendiri. (Jmb)
