Kupang, timurtoday.id – Pemerintah provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mengkonfirmasi soal pemberlakuan Peraturan gubernur (Pergub) nomor 39 tahun 2023 tentang Tata niaga hasil perikanan.
Pergub tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tahun 2024 sehingga tak ada lagi pembatasan harga jual rumput laut di tangan produsen. Harga rumput laut bebas ditentukan harga pasar.
“Sejak 2024 pergub tidak dijalankan lagi, bukan dicabut tapi ditinjau kembali . Sekarang bebas siapa saja boleh mengambil (beli), tak ada pembatasan harga,”Demikian Kepala bidang (kabid) Pengelolaan ruang laut, dan Perikanan Budidaya DKP provinsi NTT, Mohamad Saleh Goro, Senin (15/5) di ruang kerjanya.
Ia membantah penerbitan Pergub tersebut tahun 2023 lalu bukan tujuannya mengatur tata niaga untuk menciptakan ruang monopoli bisnis rumput laut bagi PD Flobamora dan perusahaan tertentu.
Justeru kata dia Pergub tersebut untuk menjaga harga beli rumput laut ditingkat petani agar tidak rugi.
“Tidak ada monopoli, waktu itu ada pembatasan harga beli minimum Rp 20.000, yang boleh dijual itu minimal Rp 20 ribu, itu bukan harga maksimal, tapi banyak masyarakat yang tidak mengerti itu. Di Alor saja harga saat itu Rp 32.500 tidak ada yang ambil dibawah Rp 20 ribu,”tambahnya.
Ia mengakui di Pergub tersebut mewajibkan hanya ada lima perusahaan yang bisa mengantarpulaukan rumput laut dari NTT.
“Tidak ada bilang hanya PD flobamor yang ambil, ada lima perusahaan, hanya mereka yang boleh bawa keluar,”kata Kabid Goro tanpa menyebutkan lima perusahaan dimaksud.
Disampaikan saat ini Pemprov juga melakukan pengawasan ketat terhadap tata niaga khususnya rumput laut karena rumput laut kini menjadi salah satu komoditi andalan pemprov NTT. Secara nasional NTT kini menempati posisi ketiga sebagai daerah produsen rumput laut.
Pemerintah juga kata Goro tengah melakukan pendataan untuk mendapatkan data akurat soal produksi rumput laut. “Kita mendata untuk mencari pembeli. Kita juga lakukan pengawasan (soal tata niaga) ini agar tidak terjadi permainan di tata niaga rumput laut,”katanya.
Diberitakan sebelumnya kini para petani rumput laut di Sulamu dihadapkan dengan harga beli rumput laut oleh pengepul yang dirasa rendah dan mengancam kelanjutan usaha mereka. “Ada belasan pengepul disini dan harga beli mereka sama tak lebih dari Rp 20 ribu perkilogram untuk yang kering, untuk yang basah warna hijau Rp 3.000, yang merah Rp 2.300, usaha kami tak bisa berkembang kalau harga terus seperti ini,”ungkap Robby Sanu, Veni Kain dan sejumlah petani rumput laut yang ditemui Jumat (15/5) di Sulamu.
Yusinta de Rosari, ketua Koperasi Merah Putih kelurahan Sulamu yang juga pelaku usaha produk Rumput laut mengatakan harga beli rumput laut di wilayah itu mulai anjlok sejak sekitar tahun 2022 lalu. “Dari Rp 38 ribu bahkan Rp 40 kilogram saat itu, turun sampai Rp 9.000 dan naik ke Rp 13.000 naik lagi ke kisaran Rp 17.000 dan kini harga yang kering itu ada di Rp 18.000, Rp 19.000 mentok di Rp 20.000,”katanya.
Pengamatan Yusinta harga beli rumput laut kering di wilayah itu tak bisa lebih dari Rp 20.000/kilogram karena kualitas rumput laut yang menurun tak seperti sebelumnya. Menurunnya kualitas rumput laut itu karena proses pengeringan yang tak lagi alami mengandalkan sinar matahari namun ada oknum-oknum petani maupun pengepul yang menyiasati proses pengeringan menggunakan garam untuk menambah berat rumput laut saat penimbangan. “Kalau gunakan cara alami satu karung yang kita keringkan bisa dapat 70-80 kilogram tapi kalau pakai garam saat pengeringan itu beratnya bisa sampai 100 kilogram perkarung, cara-cara ini yang mengurangi kualitas rumput laut kita disini,”katanya.
Selain itu kata Yusinta penyebab harga beli rumput laut ditangani petani tak lebih dari Rp 20.000/kilogram karena tak ada persaingan bisnis. Rumput laut yang diambil pengepul di Sulamu kata Yusinta dan sejumlah petani hanya dimasukan atau dijual ke satu oknum pengusaha di wilayah Alak, Kota Kupang. “Jadi terjadi monopoli, tak ada persaingan sehingga harga dikendalikan satu orang, rumput laut dari pengepul disini masuk ke satu orang saja di Namosain atau Osmok sana, dugaan kami seperti itu,”kata Yusinta. (Jmb)
