Salah seorang petani rumput laut di Sulamu mengumpulkan hasil panennya
Kupang, timurtoday.id – Budidaya rumput laut kini menjadi mata pencarian ratusan warga kelurahan Sulamu kecamatan Sulamu kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Budidaya rumput laut itu mulai digeluti serius sejak dikenalkan Ibrahim Agustinus Medah, saat menjadi bupati Kupang puluhan tahun lalu.
Ribuan utas tali berpanjang 120 meter/utas kini terbentang berbaris memenuhi ratusan hektare permukaan laut di wilayah kelurahan Sulamu dan sekitarnya.
Kini para petani dihadapkan dengan harga beli rumput laut oleh pengepul yang dirasa rendah dan mengancam kelanjutan usaha mereka. “Ada belasan pengepul disini dan harga beli mereka sama tak lebih dari Rp 20 ribu perkilogram untuk yang kering, untuk yang basah warna hijau Rp 3.000, yang merah Rp 2.300, usaha kami tak bisa berkembang kalau harga terus seperti ini,”ungkap Robby Sanu, Veni Kain dan sejumlah petani rumput laut yang ditemui Jumat (15/5) di Sulamu.
Pertani rumput laut di Sulamu
Yusinta de Rosari, ketua Koperasi Merah Putih kelurahan Sulamu yang juga pelaku usaha produk Rumput laut mengatakan harga beli rumput laut di wilayah itu mulai anjlok sejak sekitar tahun 2022 lalu. “Dari Rp 38 ribu bahkan Rp 40 kilogram saat itu, turun sampai Rp 9.000 dan naik ke Rp 13.000 naik lagi ke kisaran Rp 17.000 dan kini harga yang kering itu ada di Rp 18.000, Rp 19.000 mentok di Rp 20.000,”katanya.
Pengiringan rumput laut di Sulamu dengan cara di jemur
Pengamatan Yusinta harga beli rumput laut kering di wilayah itu tak bisa lebih dari Rp 20.000/kilogram karena kualitas rumput laut yang menurun tak seperti sebelumnya. Menurunnya kualitas rumput laut itu karena proses pengeringan yang tak lagi alami mengandalkan sinar matahari namun ada oknum-oknum petani maupun pengepul yang menyiasati proses pengeringan menggunakan garam untuk menambah berat rumput laut saat penimbangan. “Kalau gunakan cara alami satu karung yang kita keringkan bisa dapat 70-80 kilogram tapi kalau pakai garam saat pengeringan itu beratnya bisa sampai 100 kilogram perkarung, cara-cara ini yang mengurangi kualitas rumput laut kita disini,”katanya.
Tak Ada Persaingan Bisnis
Yusinta de Rosari
Selain itu kata Yusinta penyebab harga beli rumput laut ditangani petani tak lebih dari Rp 20.000/kilogram karena tak ada persaingan bisnis. Rumput laut yang diambil pengepul di Sulamu kata Yusinta dan sejumlah petani hanya dimasukan atau dijual ke satu oknum pengusaha di wilayah Alak, Kota Kupang. “Jadi terjadi monopoli, tak ada persaingan sehingga harga dikendalikan satu orang, rumput laut dari pengepul disini masuk ke satu orang saja di Namosain atau Osmok sana, dugaan kami seperti itu,”kata Yusinta.
Peraturan Gubernur
Yusinta dan sejumlah petani juga menyentil soal adanya peraturan gubernur yang mengatur soal proses pembelian dan harga rumput laut.
Sejak adanya peraturan gubernur itu sekitar tahun 2021 itu ungkap mereka, harga beli rumput laut mulai dirasa menekan petani. “Rumput laut hanya bisa dijual ke pihak tertentu dengan harga yang jauh dibawah Harga yang sebelumnya,”ungkap Yusinta
Ia menguraikan sebelum ada pergub harga beli di petani berfluktuasi dikisaran Rp 30.000 hingga Rp 40.000/kilogram karena banyaknya pembeli yang masuk ke Sulamu.
Setelah ada pergub, muncul pembeli PD. Flobamora. Masuknya PD.Flobamora, membuat pengusaha lain tak lagi membeli rumput laut di Sulamu. “Semua kasih masuk di PD.Flobamora sampai akhirnya mungkin karena terlalu banyak barang yang masuk pembayaran kepada petani mulai masalah, ada yang tak terbayar,”kata Yusinta.
Beberapa waktu kemudian PD. Flobamora tak lagi menerima rumput laut dari petani Sulamu hingga kemudian munculah oknum pengusaha asal Alak dengan sejumlah pengepulnya di Sulamu. “Sekarang semua rumput laut dari sini diantar pengepul ke pak Arif saja,”kata Yusinta yang diiyakan petani lainnya.
Mereka berharap ada perhatian pemerintah bukan hanya soal budidaya rumput laut namun juga soal harga beli yang memuaskan petani.(Jmb)