Kota Kupang, timurtoday.id – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II tengah gencar mengatasi dampak El Nino yang mengancam panen 123 hektare (ha) lahan padi di kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebanyak 18 unit mesin pompa air sudah disalurkan kepada sejumlah kelompok tani di wilayah kecamatan Kupang timur untuk menunjang pengairan 92 hektar sawah mereka yang terancam gagal panen akibat kekeringan.
“Data kami sampai saat ini di kabupaten Kupang ada 123 hektare lahan padi yang terdampak kekeringan, terancam gagal panen. Kami baru intervensi 92 hektare dengan 18 unit pompa air. Sisanya di Kupang tengah dan Nunkurus ada sekitar 20 hektare besok kami kasih bantuan tiga pompa untuk atasi kekeringan lahan,”kata Bernadetha Tea, kepala Satgas Kekeringan BBWS Nusa Tenggara II, Selasa (6/10).
Ia mengatakan penanganan antisipasi dampak El Nino oleh BBWS Nusa Tenggara II sebenarnya sudah dimulai Juli 2026 kemarin oleh sejumlah satuan kerja (Satker) dengan bentuk program masing-masing sesuai kondisi daerah terdampak.
Untuk kabupaten Kupang kata Bernadetha, penanganan lebih fokus kepada kekeringan lahan sawah yang ditanami petani di musim tanam II agar petani tidak gagal panen akibat kekeringan.
Selain distribusi bantuan mesin pompa air, pihaknya juga merencanakan program pengeboran air untuk tiga titik di wilayah-wilayah yang benar-benar tak punya sumber air.
Untuk saat ini pihaknya juga telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 224.000 liter untuk keperluan rumah tangga di 20 kelurahan di 15 kecamatan masing-masing di kabupaten Kupang, Kota Kupang, Timor Tengah Selatan dan Nagekeo.
Ia menambahkan BBWS Nusa Tenggara II telah menerima surat pernyataan bencana kekeringan dari enam pemerintah kabupaten/kota di provinsi NTT yakni kabupaten Kupang, Sumba Tengah, Sumba Barat, Manggarai Timur, Rote Ndao dan Manggarai Barat.
Pernyataan pemerintah kabupaten/kota tersebut dikatakan menjadi acuan intervensi BBWS Nusa Tenggara II dalam menangani dampak El Nino.
Hanya saja diakui kalau sejauh ini intervensi program belum menjangkau seluruh kabupaten/kota yang kini berstatus siaga bencana kekeringan. “Sejauh ini memang kita baru menjangkau kabupaten terdekat, seperti kabupaten Kupang karena memang kita perlu selamatkan ratusan hektare padi yang sudah ditanam petani agar tidak gagal panen,”katanya. (Jmb)
