23.3 C
Kupang
Kamis, April 9, 2026
Space IklanPasang Iklan

FENOMENA “MENJAMURNYA” PROFESOR DI INDONESIA, Menyusuri Jalan Sunyi “Pengangguran” dari “Sarjana Muda” 1981 hingga Profesor 2026

Oleh: Barka Manilapai (*)

( warga Batukadera, Kota Kupang )

Di-era 1980-an, Iwan Fals menggetarkan hati bangsa lewat lirik lagu ‘Sarjana Muda’. Dirilis pada 1981, lagu itu menggambarkan ironi seorang pria berjaket lusuh yang resah berkeliling mencari kerja, hanya untuk mendengar “tiada lowongan” berulang kali .

Empat dekade kemudian, kita menyaksikan babak baru dari ironi yang lebih absurd. Jika dulu sarjana muda menganggur karena lapangan kerja yang sempit, kini di tahun 2026, Indonesia dihadapkan pada fenomena baru, para profesor dan guru besar muncul ibarat “jamur di musim hujan”, namun justru “menganggur” secara fungsional.

Pengangguran di level profesor bukan berarti mereka tidak memiliki pekerjaan tetap atau gaji bulanan. Mereka tetap duduk manis di ruang dosen. Namun, “pengangguran” di sini adalah ketidakmampuan untuk berkontribusi secara signifikan terhadap pemecahan masalah bangsa. Gelar akademik tertinggi itu sering kali hanya menjadi pajangan semata, tanpa diimbangi oleh output riset yang berdampak nyata bagi industri dan kebijakan publik.

Ledakan Kuantitas vs. Krisis Kualitas (Data 2000-2026)

Fenomena “jamur di musim hujan” yang kita lihat dalam 3 tahun terakhir bukanlah tanpa data. Kementerian Pendidikan Tinggi mencatat lonjakan signifikan jumlah guru besar di Indonesia, terutama didorong oleh kebijakan afirmasi dan target angka kredit.

Berikut adalah estimasi grafik pertumbuhan jumlah Guru Besar/Profesor di Indonesia sejak tahun 2000 (berdasarkan data historis dan tren peningkatanGrafik Pertumbuhan Jumlah Guru Besar (Profesor) di Indonesia (Tahun 2000-2026) Sumber: Olahan data dari berbagai publikasi Dikti dan statistik perguruan tinggi.

Jika pada tahun 2000 jumlah profesor mungkin masih di bawah 2.000 orang, maka memasuki tahun 2023-2026, jumlah ini melonjak drastis melebihi 10.000 orang. Setiap bulan, pemberitaan pengukuhan guru besar baru membanjiri media. Pertumbuhan ini secara statistik menggembirakan, tetapi secara substantif memprihatinkan.

Baca juga  Penggantian Pejabat ASN oleh Kepala Daerah Baru, Antara Prinsip Merit Sistem dan Tantangan Politisasi

“Pengangguran” Profesor, Ketika Ijazah Tak Lagi Berguna

Iwan Fals bernyanyi, “Empat tahun lamanya bergelut dengan buku… tak berguna ijazahmu, sia-sia semuanya”. Kini, lirik itu relevan bukan hanya untuk sarjana namun juga untuk para profesor. Banyak dari mereka menghabiskan waktu 15-20 tahun untuk meraih gelar guru besar, hanya untuk menghasilkan riset yang “tidak berguna” bagi pasar dan industri.

Seperti disoroti oleh Guru Besar UNAIR, Prof. Badri Munir Sukoco, meskipun produktivitas publikasi Indonesia tumbuh 28,79% per tahun (tertinggi di ASEAN), dampak riset kita sangat rendah. Field-Weighted Citation Impact (FWCI) Indonesia hanya 0,84, jauh tertinggal dari Vietnam (1,29) atau Singapura (1,89). Artinya, meskipun “cetak” profesor banyak, karya mereka jarang dikutip atau dijadikan rujukan global.

Kita memiliki profesor yang rajin menulis, tetapi malas berpikir. Banyak riset yang hanya menghabiskan dana untuk sekadar memenuhi kewajiban angka kredit, bukan untuk menyelesaikan masalah seperti kemiskinan, ketahanan pangan, atau kemandirian industri.

Prof. Sutiman Bambang dari UB bahkan menyoroti bahwa hasil penelitian perguruan tinggi “belum banyak berdampak langsung kepada masyarakat” . Inilah definisi “pengangguran” bagi profesor, “Hadir secara fisik, tetapi absen secara intelektual”.

Krisis Integritas, “Jurnal Predator” dan Bahaya Merah

Fenomena jamur ini juga diwarnai oleh “jamur busuk”, yaitu maraknya pelanggaran integritas. Research Integrity Risk Index (RI2) baru-baru ini menempatkan beberapa kampus besar Indonesia, termasuk UI, ITB, dan Unair, dalam kategori “kewaspadaan” hingga “bendera merah” (risiko tinggi) terkait integritas ilmiah.

Kita melihat fenomena aneh, profesor dan doktor berlomba menerbitkan paper di jurnal internasional yang abal-abal (predatory journals) hanya demi akreditasi. Ironisnya, ketika publikasi di jurnal predator marak, hal itu justru menurunkan kepercayaan global terhadap semua profesor kita. Seperti kata pakar, “Kuantitas tanpa kualitas tidak membawa reputasi”

Baca juga  POLEMIK DAN SOLUSI PELAYANAN AIR BERSIH KOTA KUPANG 

Perbandingan dengan ASEAN, Tertinggal Jauh

Ketika kita berbicara tentang “Profesor ASEAN”, posisi Indonesia saat ini masih seperti “raja di kandang sendiri” namun “kucing di tengah harimau”. Berdasarkan data Global Innovation Index (GII) terbaru, Indonesia masih tertahan di peringkat 54, di bawah Malaysia (33) dan Thailand (41) . Bahkan Vietnam yang dulu di belakang, kini telah melesat. Perbandingan kualitas riset profesor kita dengan negara tetangga menunjukkan kesenjangan yang memprihatinkan.

Dari segi Dampak (FWCI), Singapura memiliki skor hampir 2.0 (sangat tinggi), Vietnam di atas 1.0 (di atas rata-rata dunia). Indonesia di bawah 1.0, artinya riset profesor kita below average secara global. Dari segi Kolaborasi Industri, Profesor di Thailand dan Malaysia lebih aktif menjadi konsultan industri.

Di Indonesia, berdasarkan laporan, banyak industri masih bergantung pada lisensi luar negeri karena riset lokal tidak aplikatif. Profesor kita lebih nyaman membuat teori di kertas daripada membuat purwarupa di pabrik.

Profesor memerlukan terapi “Kejutan”, lagu ‘Sarjana Muda’ berakhir dengan keputusasaan, “Setengah putus asa dia berucap, ‘Maaf, Ibu’.” Kita tidak ingin Indonesia berakhir setengah putus asa di tahun 2045.

Fenomena profesor jamur musim hujan harus dihentikan. Kita tidak butuh profesor yang “resah mencari kerja” (kontribusi). Kita butuh profesor yang resah jika negaranya tidak maju. Pemerintah dan Dikti harus memberlakukan evaluasi berkala yang ketat (sunset policy) bagi profesor yang tidak produktif. Jabatan akademik bukanlah pensiun dini. Jika tidak, gelar profesor kita akan sama ironisnya dengan jaket lusuh di pundak sarjana muda era 1981, status yang mewah, namun tak berdaya.(*)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini