Kupang, timurtoday.id – Olifeo adalah nama suatu kawasan daratan di kelurahan Babau kecamatan Kupang timur yang berbatasan dengan desa Nunkurus yang juga asa dalam wilayah kecamatan Kupang timur kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Letak kawasan ini agak unik karena berada ditengah muara sungai Babau dan Nunkurus yang mengitarinya.
“Olifeo itu bahasa Rote yang artinya dikeliling oleh muara. Muara disebut Oli dan Feo artinya memutar,”kata Lens Marhens, ketua kelompok tani (poktan) Finalete saat bertemu timurtoday.id di kawasan Olifeo, 19 September 2025 lalu.
Untuk menjangkau kawasan itu, ada jembatan darurat sepanjang lebih dari 20 meter yang terbuat dari susunan batang kayu dan bambu. Jembatan ini menjadi penghubung antara lahan Olifeo dan lahan diseberangnya. Butuh kehati-hatian untuk bisa sampai di kawasan Olifeo melalui jembatan itu.
Sabtu (26/9/2026) bupati Yosep Lede menembus jembatan darurat itu dan menginjakan kaki di kawasan Olifeo, kawasan yang berluasan sekitar 70 hektare (ha) itu.
Kunjungan Bupati Yosep Lede dikawasan itu untuk melihat dari dekat kondisi area pertanian sekitar 40-an hektare yang ada dalam kawasan 70-an ha itu. Mengoptimalkan potensi lahan pertanian di Olifeo adalah tujuannya.
Mesakh Mbura, wakil partai Perindo asal Kupang timur di DPRD Kupang ikut bersama Bupati Yosep Lede menemui sejumlah petani sawah di kawasan Olifeo.
“beliau (bupati Yosep Lede) menegaskan ke dinas pertanian dan PUPR agar segera mengambil langkah langkah sehingga musim tanam satu 2027 dapat dikerjakan,”ungkap Mesakh Mbura kepada timurtoday.id, Selasa (29/9)
Mesakh Mbura mengatakan pembangunan jembatan penghubung ke kawasan Olifeo adalah persoalan penting yang dihadapi petani Olifeo yang perlu ditangani segera oleh pemerintah. Ini karena selama petani kesulitan untuk membawa masuk hand traktor dan alat pertanian lainnya ke Olifeo untuk mengolah lahan yang ada.
“Untuk bisa bawa kesitu (Olifeo), hand traktor dipreteli dulu baru dipikul ke seberangi kali,”ungkap Mesakh Mbura.
Jika kondisi jembatan sudah bagus maka menurut Mesakh Mbura, lahan tidur yang belum diolah bisa dioptimalkan petani untuk menunjang program pemerintah soal ketahanan pangan.
Sejauh ini ada 72 kepala keluarga yang mengolah lahan sawah sekitar 41,5 ha dengan memanfaatkan sumber air gletser yang ada dalam kawasan itu. “Untuk optimalkan lahan itu perlu pencetakan sawah baru, pembuatan jalan tani, traktor roda empat, terutama jembatan penyeberangan, untuk jangka panjangnya perlu irigasi juga,”ungkapnya.
Petani setempat dikatakan sangat antusias atas kunjungan Bupati Yosep Lede. Mereka berharap ada intervensi program dari pemerintah untuk pengembangan potensi pertanian di Olifeo. “Dengan kedatangan pak bupati itu petani berharap ada perhatian pemerintah terhadap persoalan yang dihadapi. Karena dengan begitu potensi lahan bisa dioptimalkan,”katanya.
Pemetaan Lahan
Pada Jumat 19 September 2025 lalu pihak Fakultas Pertanian Undana Kupang bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dinas Pertanian kabupaten Kupang, Maria dolorosa Itu,S.Pt telah melakukan pemetaan lahan Olifeo.
Maria Dolorosa Itu yang diwawancarai timurtoday id waktu itu mengatakan kawasan Olifeo bisa ditanami dua kali dalam satu musim.
Saat musim hujan lahan Olifeo diairi air hujan. Namun jika musim kemarau sangat bergantung pada air dari dua muara yang ada. Namun persoalannya air dari muara akan menjadi payau saat air laut pasang. Karena itu menurutnya pembuatan embung untuk menampung air tawar yang diambil dari muara saat air laut surut adalah solusi jika lahan tersebut ingin dikelola petani saat musim kemarau.
Sistim penanaman Padi Gogo dianggap tepat dalam pengelolaan lahan Olifeo saat musim kemarau. (Jmb)
