30.3 C
Kupang
Jumat, September 25, 2026
Space IklanPasang Iklan

Penanganan Dampak El Nino di Kabupaten Kupang di Tengah Status Siaga

Kupang, timurtoday.id – Hasil Pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kabupaten Kupang adalah salah satu dari enam wilayah kabupaten di NTT yang mengalami dampak El Nino parah tahun ini. Lima kabupaten lain yakni kabupaten Lembata, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Timor Tengah Selatan (TTS), dan kabupaten Sabu Raijua.
               “Potensi kekeringan paling parah, paling riskan itu Lembata, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, TTS, Kabupaten Kupang dan kabupaten Sabu Raijua,” demikian kepala bidang Pencegahan dan kesiapsiagaan BPBD NTT, Syafrudin Herman, Senin (7/9/2026) di kantornya.
               Kepala BPBD kabupaten Kupang Nofliyanto Amtiran, Jumat (25/9) menyampaikan sesuai informasi dan data BMKG Kupang yang diterima, dampak El Nino di kabupaten Kupang berlangsung dari bulan September hingga akhir tahun 2026. Dan saat ini kekeringan di kabupaten Kupang dalam status siaga.
               Meski berstatus siaga namun ungkap Nofliyanto pihaknya belum punya data pasti soal wilayah-wilayah dari 24 kecamatan yang ada yang potensi kekeringannya paling parah. “Semua kecamatan alami dampak El nino namun kita belum punya data pasti soal kecamatan mana yang berpotensi paling parah kekeringannya, kita masih himpun data dari desa kecamatan,”katanya.
             Saat ini upaya penanganan yang dilakukan masih sebatas pendistribusian air ke titik-titik yang membutuhkan berdasarkan laporan informasi atau permintaan dari pemerintah desa/kelurahan.
Upaya itu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan sejumlah mitra NGO.
            Sejauh ini pendistribusian air tangki sudah dilakukan di beberapa titik di kecamatan Kupang tengah, Kupang timur dan Fatuleu Barat.
            Sementara untuk kabupaten Fatuleu tengah dan Kupang barat baru distribusikan penampung air berukuran 150 liter yang jumlah terdistribusinya tidak diingat persis.
            “distribusi air sudah dilakukan ke kupang tengah Kupang timur dan Fatuleu Barat sesuai informasi kebutuhan yang masuk. Kalau di Fatuleu tengah dan Kupang barat kita distribusi penampung air ukuran 150 liter, jumlahnya saya tidak ingat persis,”katanya.
            Untuk wilayah kecamatan Semau, diakui belum ada pendistribusian air untuk warga oleh pemerintah.
                Sebelumnya Camat Semau, Morifali Messakh Kamis (3/9/2026) menyampaikan kekeringan mulai melanda wilayah itu. Sumur gali, sumur bor dan sejumlah sumber air alami yang selama ini menjadi sumber air kini mengering, debit air terus menurun. Kondisi itu memaksa warga untuk membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan air mereka.
              Camat Morifali Messakh menyampaikan data lapangan yang dihimpun, ketersediaan air di Kecamatan
Semau secara umum mulai berkurang. Sejumlah sumber air mengalami penurunan debit.
                 Kondisi tersebut terlihat antara lain di desa Batuinan dengan jumlah penduduk 401 jiwa. Di desa itu terdapat satu sumur bor berkedalaman 28 meter telah kering dan empat sumur gali hampir tidak dapat digunakan, sehingga kebutuhan air masyarakat bergantung pada air tangki yang dibeli dengan harga Rp 200.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter.
             Di desa Uitao yang dihuni 930 jiwa ungkap camat Morifali, terdapat 8 sumur bor, 64 sumur gali dan 1 mata air, namun seluruh sumber tersebut mengalami penurunan debit dan sebagian besar keluarga mulai menggunakan air tangki.
            Di desa Bokonusan, ada satu sumber air dan 6 sumur gali yang juga mengering. Ada tiga Cekdam di wilayah desa itu namun air dari Cekdam itu lebih banyak dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, sehingga belum menjadi cadangan utama untuk kebutuhan air rumah tangga.
             “Di Bokonusan hampir semua penduduk bergantung air tangki karena sumber air embung hanya bisa digunakan untuk aktifitas pertanian. Di Uiasa itu masih sekitar 30-an KK di dusun 5 Kulun masih menggunakan air tangki dengan harga Rp 225.000 sampai Rp 250.000 per tengki,”ungkapnya.
             Sementara itu di desa Otan tambah camat Morifali, terdapat 11 sumur bor namun sebagian besar dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian, sementara untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat masih mengandalkan layanan
PAM yang baru menjangkau sekitar 50% kepala keluarga yang ada. sedangkan sebagian masyarakat
lainnya masih bergantung pada air tangki.
            “kondisi tersebut menunjukkan pola yang sama, yaitu debit sumber air yang semakin menurun dan pada beberapa lokasi telah kering. Memasuki September 2026 ini Kecamatan Semau berada pada kondisi yang perlu diwaspadai dalam menghadapi kekeringan dan penurunan ketersediaan air,”ungkapnya.
              Ia mengatakan dari kondisi yang ada diperlukan langkah antisipasi secara menyeluruh di seluruh desa, terutama pemantauan debit sumber air, penguatan cadangan air, serta penyiapan distribusi air tangki bagi wilayah yang sumber airnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. (Jmb)
Baca juga  Keluarga Neno di Benu - Takari Klaim Lahan Bekas Kantor PT.Sagaret Bukan Milik Keluarga Tefnai

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Tetap Terhubung

Berita terkini